Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kalender Kegiatan

PETUNJUK TEKNIS POTENSI BEBERAPA PLASMA NUTFAH KAMBING LOKAL INDONESIA PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 23 April 2018 08:08
Dibaca: 79 kali

Untuk mengidentifikasi karakteristik dan perbedaan penampilan kambing lokal yang ada di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan telah memulai penelitian karakterisasi kambing lokal yang ada di Indonesia. Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi-Bogor sudah memulai mengkarakterisasi kambing Kosta (Tahun 1995) dan Gembrong (Tahun 1997) serta dilanjutkan oleh Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih pada Tahun 2000-2007 untuk penelitian/karakterisasi kambing Marica (Sulawesi Selatan), kambing Muara (Kab. Tapanuli Utara, Sumatera Utara), kambing Samosir (Kab. Samosir, Sumatera Utara) dan kambing Benggala (Nusa Tenggara Timur). Ternyata dari segi bentuk ukuran tubuh, tanduk, telinga, ekor, dan pola warna terdapat perbedaan antara kambing lokal di suatu daerah dengan daerah yang lain yang sudah dikenal masyarakat dalam selang waktu yang cukup lama.

Pada mulanya penjinakan kambing terjadi di daerah pegunungan Asia Barat sekitar 8000-7000 SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus) berasal dari 3 kelompok kambing liar yang telah dijinakkan, yaitu bezoar goat atau kambing liar eropa (Capra aegagrus), kambing liar India (Capra aegagrus blithy), dan makhor goat atau kambing makhor di pegunungan Himalaya (Capra falconeri). Sebagian besar kambing yang diternakkan di Asia berasal dari keturunan bezoar. Menurut SETIADI et al., (2002) ada dua rumpun kambing yang dominan di Indonesia yakni kambing Kacang dan kambing Ettawah. Kambing Kacang berukuran kecil sudah ada di Indonesia sejak tahun 1900-an dan kambing Ettawah tubuhnya lebih besar menyusul kemudian masuk ke Indonesia.

Kemudian ada juga beberapa jenis kambing yang didatangkan ke Indonesia pada masa jaman pemerintahan Hindia Belanda dalam jumlah kecil sehingga menambah keragaman genetik kambing di Indonesia. Sejalan dengan bertambahnya jenis bangsa kambing maka lama kelamaan terjadilah proses adaptasi terhadap agroekosistem yang spesifik sesuai dengan lingkungan dan manajemen pemeliharaan yang ada di daerah setempat. Dengan demikian terjadi proses adaptasi (evolusi) yang membuka kemungkinan munculnya jenis/bangsa kambing yang baru.

File lengkap : (Download)

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com