JM Hot News - шаблон joomla Окна

Ternak kambing memiliki potensi sebagai komponen usaha tani yang penting diberbagai agro-ekosistem, karena memiliki kapasitas adaptasi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa enis ternak ruminansia lain, seperti sapi dan domba. Dengan karakter yang mampu bertahan pada kondisi marjinal, ternak ini sering menjadi pilihan utama diberbagai komunitas petani, sehingga berkembang sentra-sentra produksi kambing yang menyebar diberbagai agriekosistem. Namun demikian, pengelolaan ternak kambing dalam usaha tani sebagian besar masih dilakukan secara sambilan, walaupun secara finansial komoditas ini memiliki peran yang penting dalam perekonomian rumah tangga petani.

Usaha produksi yang bersifat sambilan dengan jumlah kepemilikan yang kecil cenderung menurunkan tuntutan akan suatu inovasi teknologi atau inovasi manajemen untuk meningkatkan produktifitas dan keuntungan usaha. Hal ini terus berlangsung, walaupun selain sebagai sumber pendapatan langsung, peran ternak kambing sebagai sumber pupuk organik untuk memaksimalkan produktivitas tanaman agar total pendapatan dari usaha tani meningkat semakin disadari.

Kontribusi penting yang diperankan oleh ternak kambing tersebut diatas merupakan suatu potensi untuk mendorong semakin meningkatnya skala usaha pemeliharaan kambing sesuai dengan kapasitas daya dukung yang tersedia. Peningkatan skala usaha dan orientasi usaha kearah usaha yang komersial-intensif akan meningkatkan efisiensi produksi dan dapat memberi kontribusi pendapatan yang lebih nyata karena pasar yang tersedia, baik domestik maupun ekspor. Dengan demikian pola usaha diharapkan akan berubah kearah yang lebih intensif yang semakin membutuhkan inovasi teknologi untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi.

file lengkapnya : [download]

Berdasarkan penggolongan Hoffman yang dilakukan atas dasar morfofisiologis dan perilaku makannya, maka ternak kambing termasuk kedalam kelompok intermediate yaitu antara kelompok perumput (grazer) dan peramban murni (concentrate selectors). Sebagai kelompok intermediate ternak kambing mampu beradaptasi terhadap berbagai jenis hijauan pakan baik jenis rumput, legum rambat, pakis maupun legum perdu/pohon. Berbagai jenis hijauan pakan ternak yang tergolong eksotik/introduksi dan memiliki produktifitas tinggi dapat dikembangkan untuk berbagai jenis ternak ruminansia. Namun, kesesuaian tanaman pakan tersebut tidak selamanya berlaku untuk setiap jenis ruminansia, baik disebabkan oleh karena perbedaan struktur anatomi maupun ukuran organ cerna diantar jenis ternak ruminansia. Oleh karena itu, rekomendasi terhadap berbagai jenis tanaman pakan ternak yang paling sesuai untuk jenis ternak ruminansia tertentu sebaiknya dilakukan agar pemanfaatan hijauan pakan tersebut dapat maksimal.

Salah satu jenis hijauan pakan dari kelompok graminae yang cocok untuk produksi ternak kambing adalah Brachiaria ruziziensis. Tekstur tanaman yang relatif lembut dengan ukuran batang dan daun yang tidak terlalu besar

secara fisik sesuai dengan ukuran dan kapasitas organ cerna ternak kambing yang realtif kecil.

Umumnya petani peternak di pedesaan masih bertumpu pada cara-cara tradisional dengan mengandalkan rumput lapang sebagai sumber utama pakan ternak dengan jumlah yang terbatas. Keterbatasan pakan dapat menjadi penyebab utama populasi ternak disuatu daerah menurun,karena kemampuan peternak dalam penyediaan pakan akan menentukan jumlah ternak yang dipelihara. Untuk mengantisipasi kekurangan hijauan pakan, maka lahan kosong/lahan tidur dapat ditanami tanaman hijauan pakan yang berfungsi untuk padang pengembalaan maupun potongan.

Brachia ruziziensis merupakan salah satu spesies rumput yang memiliki fungsi ganda yang dapat dipakai sebagai rumput potongan maupun pengembalaan, dan sangat disukai oleh ternak (palatabilitas tinggi) serta pertumbuhannya cepat, sehingga mampu bersaing dengan tanaman lain seperti gulma/ tanaman liar disekelilingnya. Disamping itu, tanaman ini tahan terhadap kemarau yang sedang, sehingga menjadi salah satu pilihan potensial untuk mendukung produksi kambing.

file lengkapnya: [download]

Sebagian besar pengusahaan ternak kambing di Indonesia merupakan usaha peternakan rakyat dengan tingkat penerapan teknologi serta manajemen yang cukup beragam. Keragaman dalam hal intensitas penggunaan maupun pemilihan jenis teknologi dapat disebabkan antara lain oleh perbedaan agroekosistem dimana ternak kambing dipelihara ataupun oleh tingkat pengetahuan serta pengalaman dalam berusaha. Oleh karena itu, adanya sumber informasi yang secara prinsip-teknis dapat menjangkau berbagai kondisi lingkungan yang beragam diharapkan dapat membantu meningkatkan penerapan teknologi dan teknis manajemen dalam usaha produksi kambing. Salah satu aspek sangat penting dalam usaha produksi kambing adalah pengelolaan pakan secara efisien.

Buku petunjuk teknis ini secara khusus memuat prinsip dan teknis pengelolaan pakan serta memamparkan berbagai inovasi teknologi pakan yang dapat diterapkan dalam usaha peternakan kambing balk yang dikelola dengan pola peternakan rakyat maupun pengelolaan secara komersial dengan orientasi keuntungan. Aspek manajemen dan teknologi pakan yang dikemukakan dalam buku ini disusun sedemikian rupa sehingga dapat menjangkau berbagai agro-ekosistem yang berbeda.

Semoga buku petunjuk teknis ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dan memebri kontribusi bagi peningkatan efisiensi usaha ternak kambing.

 

COVER

KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI

PEMBAHASAN, DAFTAR PUSTAKA

Petunjuk teknis ini disusun untuk memberikan informasi kepada para pelaku usaha dan pemerhati peternakan khususnya ternak ruminansia tentang potensi lumpur sawit / solid ex-decanter sebagai bahan pakan alternatif guna mendukung ketersediaan pakan nasional dalam rangka menuju swasembada daging tahun 2014.

Lumpur sawit/solid ex-decanter merupakan limbah dari industri pengolahan kelapa sawit yang ketersediannya cukup berlimpah dan masih belum dimanfaatkan secara optimal serta masih belum punya nilai ekonomis berbeda dengan limbah kelapa sawit lainnya seperti bungkil inti sawit. Beberapa kajian menunjukkan selain memiliki potensi kuantitas, lumpur sawit/solid ex-decanter juga mempunyai potensi kualitas nutrisi yang cukup baik, walaupun ada beberapa kendala yang masih dapat diatasi melalui teknologi prosesing.

Mudah-mudah pentunjuk teknis yang sederhana ini bermanfaat bagi peternak khususnya dan semua pelaku peternakan pada umumnya.

File fulltext : [download]

Untuk mengidentifikasi karakteristik dan perbedaan penampilan kambing lokal yang ada di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan telah memulai penelitian karakterisasi kambing lokal yang ada di Indonesia.

Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi-Bogor sudah memulai mengkarakterisasi kambing Kosta (Tahun 1995) dan Gembrong (Tahun 1997) serta dilanjutkan oleh Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih pada Tahun 2000-2007 untuk penelitian/karakterisasi kambing Marica (Sulawesi Selatan), kambing Muara (Kab. Tapanuli Utara, Sumatera Utara), kambing Samosir (Kab. Samosir, Sumatera Utara) dan kambing Benggala (Nusa Tenggara Timur). Ternyata dari segi bentuk ukuran tubuh, tanduk, telinga, ekor, dan pola warna terdapat perbedaan antara kambing lokal di suatu daerah dengan daerah yang lain yang sudah dikenal masyarakat dalam selang waktu yang cukup lama.

Pada mulanya penjinakan kambing terjadi di daerah pegunungan Asia Barat sekitar 8000-7000 SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus) berasal dari 3 kelompok kambing liar yang telah dijinakkan, yaitu bezoar goat atau kambing liar eropa (Capra aegagrus), kambing liar India (Capra aegagrus blithy), dan makhor goat atau kambing makhor di pegunungan Himalaya (Capra falconeri). Sebagian besar kambing yang diternakkan di Asia berasal dari keturunan bezoar.

Menurut SETIADI et al., (2002) ada dua rumpun kambing yang dominan di Indonesia yakni kambing Kacang dan kambing Ettawah. Kambing Kacang berukuran kecil sudah ada di Indonesia sejak tahun 1900-an dan kambing Ettawah tubuhnya lebih besar menyusul kemudian masuk ke Indonesia.

Kemudian ada juga beberapa jenis kambing yang didatangkan ke Indonesia pada masa jaman pemerintahan Hindia Belanda dalam jumlah kecil sehingga menambah keragaman genetik kambing di Indonesia. Sejalan dengan bertambahnya jenis bangsa kambing maka lama kelamaan terjadilah proses adaptasi terhadap agroekosistem yang spesifik sesuai dengan lingkungan dan manajemen pemeliharaan yang ada di daerah setempat. Dengan demikian terjadi proses adaptasi (evolusi) yang membuka kemungkinan munculnya jenis/bangsa kambing yang baru.

file lengkapnya : [download]